Suku yang Ada di Sumatera Barat

Hampir seluruh Suku di Sumatera Barat, ternyata memiliki keunikan, yaitu dapat hidup berafiliasi dengan suku lainnya, bahkan di satu wilayah yang sama.

Sedangkan perbedaan suku ini dengan Sumatera Utara adalah, lebih kepada sistem garis keturunannya. Jika tanah Batak menganut sistem “Patrilineal”, atau garis bapak, maka di ranah minang menganut sistem “Matrilineal”, atau mengikuti garis ibu.

Beragam suku di provinsi ini juga terdiri dari suku asli, maupun suku pendatang. Untuk lebih jelasnya, ikuti terus 5 suku di Sumatera Barat, yang masih exist sampai saat ini.

1. Suku Minangkabau

Banyak orang sudah mengetahui, bahwa Suku Minangkabau memiliki jumlah yang cukup besar di Sumatera Barat. Bahkan sebenarnya, mereka tidak hanya hidup tersebar di seluruh provinsi ini, tapi juga tersebar di seluruh Indonesia.

Hal ini memang wajar, mengingat masyarakat Minangkabau memiliki kebiasaan atau tradisi Merantau, dalam mencari peruntungannya.

Orang Minangkabau juga terkenal sangat agamais, yang selalu patuh dalam menjalankan ibadah Agama Islam. Bahkan jika ada orang Minangkabau yang keluar dari Islam, maka terkadang dapat dikeluarkan dari anggota suku.

Suku ini juga terkenal akan berbagai macam keseniannya, terutama tari-tarian. Beberapa jenis kesenian mereka yang terkenal adalah, Tari Piring, Tari Pasambahan, Salawat Dulang, Randai, dan Silek.

Dalam berkomunikasi, Suku Minang memiliki bahasanya sendiri, yaitu Bahasa Minangkabau, yang sekilas terdengar mirip dengan bahasa Melayu. Namun sebenarnya sangatlah berbeda, hanya logatnya saja yang mirip.

2. Suku Mentawai – Suku Asli Sumatera Barat

Masyarakat Suku Mentawai, banyak berdomisili di Kepulauan Mentawai, yang secara etnis tergolong dalam Proto Melayu. Suku ini terkenal kental akan budaya dan kehidupannya, yang masih tradisional.

Karena mayoritas penduduknya yang belum mengenal cara bercocok tanam, sehingga kegiatan utama mereka adalah meramu campuran. Salah satu dari tradisi unik dari masyarakat Mentawai adalah, kebiasaan melukis tato di sekujur tubuhnya.

Adapun tujuan dari tradisi itu, melambangkan suatu peran dan status sosial pemiliknya. Selain itu, para wanita yang telah memasuki usia remaja, akan menjalani tradisi potong gigi, yang menjadi simbol dari kecantikan.

Gaya hidupnya sebagai pemburu nomaden, membuat Suku Mentawai memilih tinggal di pesisir pantai dan wilayah hutan hujan. Kehidupan masyarakatnya, juga masih banyak yang menjalankan kepercayaan animisme.

3. Suku Kubu, Suku Asli Sumatera Barat

Suku Kubu atau Suku Anak Dalam yang terdapat di Sumatera Barat, merupakan suku pedalaman yang tinggal di dalam hutan. Pada awalnya mereka hidup secara nomaden, atau sering berpindah dari satu hutan ke hutan lainnya.

Namun seiring berjalannya waktu, sebagian dari masyarakatnya sudah tinggal menetap, dan tidak lagi tinggal di hutan. Selain berdomisili di wilayah Sumatera Barat, namun keberadaannya cukup populer di juga di Wilayah Jambi.

4. Suku Chaniago – Suku di Sumatera Barat

Datuk Perpatih Nan Sebatang, adalah seorang tokoh, yang membawa Suku Chaniago ke daratan Sumatera Barat. Sedangkan falsafah hidup dari suku ini adalah, selalu menjunjung tinggi paham demokratis, berdasarkan falsafah,

”Bulek aia dek pambuluah, bulek kato dek mufakat. Nan bulek samo digolongkan, nan picak samo dilayangkan”.

Yang artinya adalah, ”Bulat air karena pembuluh, bulat kata karena mufakat”.

Pengertian umum dari falsafah tersebut adalah, masyarakatnya yang akan selalu mengambil keputusan, melalui proses musyawarah dan mufakat.

5. Suku Guci

Suku ini selalu menyukai hidup berafiliasi, dengan suku yang berbeda-beda di berbagai penjuru Sumatera Barat.

Adapun contoh keberadaannya, banyak terdapat di beberapa daerah seperti Kecamatan Bayang dan Pesisir Selatan.

Di sini, Suku Guci hidup berdampingan dengan Suku Tanjung. Namun di wilayah Pauh, suku ini berafiliasi dengan Suku Melayu.