Tarian Tradisional Jawa Barat

Keberagaman suku yang ada di Indonesia menghadirkan ribuan adat istiadat, budaya, seni, bahasa, dan kuliner.

Setiap suku mempunyai warna yang berbeda-beda dan membuat Indonesia punya banyak pesona yang tersohor hingga ke manca negara.

Budaya Nusantara yang paling banyak menyedot perhatian adalah tari tradisonalnya, yaitu warisan budaya turun temurun yang menampilkan gerak tubuh dengan iringan alat musik tradisional.

Salah satu wilayah Indonesia yang mempunyai koleksi tradisional yang banyak adalah Jawa Barat, yang mayoritasnya ditinggali oleh masyarakat Suku Sunda, suku terbesar kedua di Indonesia.

Berikut adalah beberapa tradisional Suku Sunda yang wajib banget Anda ketahui:”

Jaipong

Tari Jaipong atau Jaipongan adalah merupakan tari tradisional Sunda terbaik dan paling populer, yang biasanya dibawakan oleh satu orang, berpasangan, atau berkelompok. Asal usul tarian ini merupakan pengembangan dari kesenian khas Sunda lainnya, yaitu Ketuk Tilu, Kliningan, serta Ronggeng.

Untuk menampilkan seni tradisional ini, biasanya diiringi dengan alat musik tradisional gamelan yang terdiri dari, degung, ketuk, gendang, rebab, kecrek, gong, dan diiringi dengan nyanyian sinden.

Kesenian yang diciptakan pada tahun 1960-an oleh seorang seniman bernama Gugun Gumilar sekitar tahun 1960-an ini, digunakan untuk menyambut tamu yang datang ke wilayah Jawa Barat, pentas seni, dan berbagai acara adat.

Tari Topeng Kuncaran

Sama seperti namanya, Tari Topeng Kuncaran memang dipentaskan oleh penari yang mengenakan topeng. Tarian tradisional ini sangat kental dengan kehidupan masyarakat Sunda. Terlihat dari penggunaan alat musik tradisonal dan busana yang dikenakan oleh para penarinya.

Selain itu, pementasannya biasanya dilakukan dalam pelaksanaan upacara adat, pertunjukan seni atau acara yang berhubungan dengan seni tradisi. Biasanya ditampilkan oleh satu orang, namun terkadang juga dimainkan secara berpasangan atau kelompok.

Selain topeng, penari Topeng Kuncaran juga membawa properti lain, seperti keris, mahkota, aksesoris berupa gelang tangan dan kaki serta anting, lalu dilengkapi dengan alat musik seperti gong, bonang, hingga saron.

Tari Merak

Tari Merak merupakan kesenian Jawa Barat yang gerakannya terinspirasi dari gerakan burung merak saat sedang membuka bulu ekornya yang indah.

Pada umumnya ada tiga orang penari dalam pementasan tarian ini. Mereka akan menggunakan kostum yang melambangkan burung merak dengan mahkota seperti paruh merak dan sayap di belakang berwarna hijau dengan corak seperti bulu merak.

Tarian tradisional ini merupakan hasil kreasi dari seniman bernama Raden Tjetje Soemantri pada periode 1950-an.

Tari Sintren

Tarian khas Jawa Barat lainnya berasal dari wilayah Cirebon, yakni Tari Sintren. Tarian ini mempunyai unsur magis, sebab awalnya tari klasik ini dipentaskan saat malam bulan purnama dan roh halus telah masuk ke tubuh sang penari.

Sebelum mulai menari akan ada pawang yang bertugas untuk memanggil roh bidadari. Namun, sebelum memanggil roh. Saat pemanggilan roh tersebut berlangsung, penari akan masuk ke dalam sebuah kurungan yang ditutup oleh kain. Kemudian, jika pawang berhasil memanggil roh bidadari, ketika kurungan ayam dibuka sang penari sudah mulai kerasukan dan menari.

Seiring dengan perkembangan jaman, tarian ini tidak lagi dipentaskan saat purnama, namun pertunjukan Sintren telah menjadi salah satu hiburan yang dipertunjukkan untuk menghibur wisatawan serta memeriahkan acara hajatan.

Tari Ketuk Tilu

Seperti yang sudah disebutkan diatas, Jaipongan adalah hasil dari pengembangan berbagai kesenian Jawa Barat, salah satu di dalamnya adalah Tari Ketuk Tilu.

Tari ketuk tilu mempunyai tiga gerakan khas, yaitu gitek, geol, dan goyang. Dalam pementasannya diiringi berbagai alat musik seperti kendang, rebab, tiga buah ketuk, Kecrek, dan Goong

Pada mulanya, Ketuk Tilu dipertunjukkan dalam upacara adat menyambut musim panen, sebagai ucapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah. Setelah mengalami perkembangan, Ketuk Tilu juga ditampilkan di acara pernikahan, dan menjadi hiburan penutup sebuah acara.

Kesenian tradisional yang disebutkan di atas masih terus dilestarikan oleh masyarakat setempat sampai hari ini, agar keberadaannya tidak hilang begitu saja dan dapat bertahan ditengah perubahan jaman yang terus terjadi.