Mengenal Asal Usul dan Adat-Istiadat 5 Suku Terbesar di Jawa


Indonesia merupakan salah satu negeri yang kaya raya. Kekayaan itu tak sebatas mengacu dari hasil alamnya saja, tetapi juga ragam suku, bahasa, agama, kepercayaan, dan adat istiadat. Untuk kekayaan suku bangsa, Indonesia memiliki ratusan nama suku salah satunya seperti suku terekstrem, bahkan ribuan jika ditelusuri hingga subsukunya.

Setiap suku juga memiliki adat dan norma yang berbeda-beda. Begitu juga keberagaman itu tidak membuat keutuhan bangsa terpecah-pecah. Sebaiknya, keberagaman menyatu untuk mencapai tujuan masyarakat yang adil dan makmur.

Setidaknya, ada sekitar 1.340 suku bangsa yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Catatan yang dihimpun dari BPS tahun 2010 lalu menyebutkan bahwa suku Jawa merupakan suku terbesar dengan proporsi 40,05% dari jumlah penduduk di Indonesia. Sisanya adalah suku-suku yang mendiami wilayah di luar Jawa, seperti Bugis (3,68%), Batak (2,04%), Bali (1,88%), Aceh (1,4%), dan suku-suku lainnya.

Sementara itu, masyarakat Jawa di sisi lain tidak hanya mendiami Pulau Jawa saja, tetapi ada juga yang berada di luar Pulau Jawa dengan tetap mempertahankan nilai-nilai budayanya. Oleh karena itu, kebudayaan Jawa dinilai besar dan sangat beragam dari berbagai sisi.

Secara umum, wilayah Jawa mayoritas didiami oleh suku Jawa, yang terbagi ke dalam beberapa suku atau subsuku. Selain suku Jawa, suku-suku besar lain yang mendiami wilayah ini adalah suku Samin, Tengger, Osing, dan Bawean.

Agar lebih mememahi asal-usul dan adat istiadat suku-suku tersebut, yuk simak bersama-sama gambaran dan penjelasannya berikut.

1. Suku Jawa

Suku Jawa merupakan suku bangsa terbesar di Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerha Istimewa Yogyakarta, Kabupaten Indramayu, Kabupaten/Kota Cirebon (Jawa Barat), dan Kabupaten/Kora Serang-Cilegon (Banten).

Saat ini, suku Jawa di Suriname menjadi salah satu suku terbesar di sana dan dikenal sebagai Jawa Suriname. Ada juga sejumlah besar suku Jawa di sebagian besar provinsi di Indonesia, Malaysia, Singapura, Arab Saudi, dan Belanda.

Kristen, Kejawen, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Adapun peradaban orang Jawa telah dipengaruhi interaksi antara budaya Kejawen dan Hindu-Buddha selama lebih dari seribu tahun.

Masyarakat Jawa masih memegang teguh kepercayaan Kejawen. Kejawen sendiri merupakan ajaran yang dianut oleh para filsuf Jawa dan menjadi ajaran utama dalam membangun tata krama atau aturan dalam berkehidupan yang lebih baik. Kejawen merupakan suatu kepercayaan, bukan sebuah agama. Kejawen lebih berupa seni, budaya, tradisi, sikap, ritual, dan filosofi masyarakat Jawa yang tidak terlepas dari spiritualitas suku Jawa.

Aliran Kejawen ini kemudian berkembang seiring dengan agama yang dianut oleh pengikutnya, sehingga kemudian dikenal sebagai Islam Kejawen, Hindu Kejawen, Buddha Kejawen, dan Kristen Kejawen.

2. Suku Samin

Mayoritas suku Jawa adalah penganut agama Islam, dengan beberapa minoritas Suku Samin adalah sekelompok masyarakat yang menganut ajaran Saminisme. Ajaran ini berasal dari seorang tokoh bernama Samin Surosentiko yang lahir pada tahun 1859 di Desa Ploso Kedhiren, Klopodhuwur, Randublatung, Blora.

Masyarakat Samin memiliki kepribadian yang polos dan jujur. Artinya, mereka terbuka kepada siapa pun, termasuk kepada orang-orang yang belum dikenalnya. Mereka menganggap semua orang sebagai saudara, sehingga selalu mengutamakan sikap kebersamaan.

Masyarakat Samin umumnya berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa lugu atau Jawa ngoko alus yang kadang bercampur bahasa krama. Oleh karena itu, pembicaraan mereka terdengar seperti dongeng fabel gajah dan tikus serta agak kasar seperti layaknya karakter orang Jawa Timuran.

3. Suku Tengger

Suku Tengger atau sering juga disebut dengan wong Brama adalah suku yang mendiami dataran tinggi di sekitar kawasan Pegunungan Bromo–Tengger–Semeru, Provinsi Jawa Timur. Penduduk suku ini menempati sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Probolinggo, dan Kabupaten Malang.

Ada banyak makna yang dikandung dari kata “tengger”. Secara etimologis, tengger berarti berdiri tegak serta diam tanpa bergerak (bahasa Jawa: anteng). Jika dikaitkan dengan adat dan kepercayaan, arti “tengger” adalah tengering budi luhur (tanda bahwa warganya memiliki budi luhur).

Menurut legenda, asal usul suku Tengger erat kaitannya dengan cerita mengenai Rara Ateng dan Jaka Seger yang memberitahu tentang cara mendidik anak tentang kejujuran. Nama Tengger sendiri diambil dari nama keduanya, yakni -teng dari akhiran nama Rara Anteng dan -ger dari akhiran nama Jaka Seger. Masyarakat suku Tengger memercayai bahwa mereka adalah keturunan dari keduanya.

4. Suku Osing

Suku Osing adalah penduduk asli Banyuwangi yang juga disebut sebagai Laros (akronim dari Lare Osing) atau Wong Blambangan. Mereka menggunakan bahasa Osing, yang masih termasuk subdialek bahasa Jawa bagian timur dan berkerabat dengan bahasa Jawa Arekan dan bahasa Tengger.

Suku ini menempati beberapa kecamatan di Kabupaten Banyuwangi bagian tengah dan bagian timur. Mayoritas berada di Kecamatan Songgon, Kecamatan Rogojampi, Kecamatan Blimbingsari, Kecamatan Singojuruh, Kecamatan Kabat, Kecamatan Licin, Kecamatan Giri, Kecamatan Glagah, dan sebagian berada di Kecamatan Banyuwangi, Kecamatan Kalipuro dan Kecamatan Sempu yang berbaur dengan komunitas suku Madura dan Bali.

Kesenian utama dari suku tersebut, yaitu Gandrung Banyuwangi, Patrol, Seblang, Angklung, Tari Barong, Kuntulan, Kendang Kempul, Janger, Jaranan, Jaran Kincak, Angklung Caruk, dan Jedor.

5. Suku Bawean

Suku Bawean juga dikenal dengan nama Boyan atau Bhebien. Suku ini terbentuk karena terjadinya percampuran antara orang Madura, Melayu, Jawa, Banjar, Bugis, dan Makassar selama ratusan tahun di pulau Bawean. Masyarakat Melayu Malaka dan Malaysia lebih mengenal suku tersebut dengan sebutan Boyan daripada Bawean. Menurut pandangan mereka, boyan berarti “sopir” dan “tukang kebun” (kepbhun dalam bahasa Bawean), sesuai dengan mata pencaharian sebagian masyarakat asal Bawean.

Orang-orang Bawean merupakan satu kelompok kecil dari masyarakat yang suka bermain game roblox terbaik 2022 yang berasal dari Pulau Bawean. Pulau ini terletak di Laut Jawa, yaitu di antara Pulau Kalimantan di sebelah utara dan Pulau Jawa di sebelah selatan. Pulau tersebut terletak sekitar 80 mil ke arah utara Surabaya dan masuk kabupaten Gresik. Pulau itu terdiri atas dua kecamatan, yaitu Kecamatan Sangkapura dan Kecamatan Tambak.

Nah, itulah penjelasan singkat mengenai Asal-Usul dan Adat-Istiadat 5 Suku Terbesar di Jawa. Semoga bermanfaat!